Search This Blog

Monday, December 11, 2017

ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER

Nama : Sasongko Triananda
Kelas  : 4IB06-C
NPM  : 1A414064

 


::: AMD ( Advanced Micro Devices ) :::
// Pembahasan kali ini akan lebih mendalami (Mengambil Tema) Prosesor AMD K5 //

Latar Belakang

       Sebuah perangkat komputer bekerja dengan menggabungkan fungsi-fungsi dari beberapa komponen utama dan pendukungnya, salah satunya adalah prosesor. Ada beberapa sistem prosesor yang digunakan agar performance dari sebuah PC dapat bekerja secara maksimal sesuai dengan tujuan penggunaan. Sistem atau komponen tersebut diantaranya adalah CPU, GPU, dan APU.
        AMD selaku perusahaan yang bergerak dibidang pengembangan dan pembuatan prosesor tentu saja memasukan salah satu dari komponen pembentuk PC tersebut dalam suatu rancangannya agar dapat bersaing dalam pangsa pasar prosesor. Salah satu andalan dari AMD dalam prosesor buatannya adalah dengan hadirnya sistem APU (accelerated proccessor unit) yang menggabungkan sistem CPU (central proccessing unit) dan GPU (graphical proccesing unit) kedalam satu chip-on board. Sistem APU ini akan memberikan keuntungan berupa kecepatan proses yang lebih tinggi dengan digabungkannya fungsi dari CPU dan GPU dalam satu chip. Untuk penggunaan khusus (seperti gaming) penggunaan APU mungkin tidak terlalu memuaskan, akan tetapi untuk penggunaan umum penggunaan APU ini sangat menjanjikan performansi yang sangat baik yang dapat mengkolaborasikan kegiatan komputasi secara umum tetapi dengan kualitas grafik yang tinggi.


Sejarah

      AMD (Advanced Micro Devices, Inc) adalah perusahaan semikonduktor multinasional Amerika Serikat yang berbasis di Sunnyvale, California. Perusahaan yang mengembangkan prosesor komputer dan teknologi yang terkait untuk pasar konsumen dan komersial. Produk utama termasuk mikroprosesor, chipset motherboard, embedded prosesor kartu grafis (GPU), prosesor untuk server, workstation dan komputer pribadi (PC). Serta teknologi prosesor untuk perangkat genggam, televisi digital, mobil, konsol game, dan aplikasi lainnya yang terdapat sistem.
      AMD mulai menggebrak pasaran dengan prosesor buatannya sendiri pada tahun 1996, dengan merilis AMD K5. Sebelumnya, AMD sudah membuat prosesor seperti AM486 pada masa Intel 386 dan 486, namun masih di bawah lisensi Intel. AMD K5 ini mendapat respon yang baik. Kemudian ada AMD K6 yang dirilis pada tahun 1997, dengan kecepatan 166 dan 200MHz. Prosesor ini memang dirilis untuk diadu dengan kemampuan prosesor Intel.
       Kelebihan dari prosesor-prosesor AMD adalah kemampuannya untuk di overclock. Sama dengan AMD, setelah memproduksi prosesor X86 untuk Intel pada masa Intel 286 dan 386, Cyrix memutuskan untuk memebuat sendiri dengan merilis Cyrix 486 DX-4 untuk pertama kalinya di awal 90-an. Dilanjutkan pada tahun 1995, Cyrix merilis Cyrix 6X86, prosesor dengan kecepatan tinggi di angkatannya, yang sayangnya punya masalah pada kompatibilitas dan panas. Pada tahun 1999 Cyrix dibeli oleh VIA, perusahaan chipset asal Taiwan.

      AMD mengumumkan merger dengan ATI Technologies pada 24 Juli 2006. AMD dibayar $ 4,3 miliar dalam bentuk uang tunai dan 58 juta saham dari saham dengan total sebesar US $ 5,4 miliar. Merger selesai pada 25 Oktober 2006 dan ATI sekarang bagian dari AMD.
Berikut prosesor yang pernah di keluarkan oleh AMD :
      1. K5 (Tahun 1996).
      2. K6 (Tahun 1997).
      3. DURON (Dikenal pada tahun 2000).
      4. ATHLON ;
             - Athlon Classic,
             - Athlon Thunderbird (180nm / 5 juni Tahun 2000),
             - Athlon  XP ( eXtrime Power / 130 nm),
             - Athlon Palomino ( 180nm / 9 Oktober Tahun 2001),
             - Athlon Thoroughbred A/B ( 130 nm / 10 Juni Tahun 2002),  
             - Athlon  Thorton (130nm / September Tahun 2003).
       5. AMD ATHLON 64.
      6. AMD ATHLON 64 FX. 
      7. AMD SEMPRON (Tahun 2004) ;
             - AMD Sempron soket A
             - AMD Sempron Soket 754 
       8. AMD 64 X2 DUAL CORE.
      9. AMD OPTERON.
      10. AMD CADIZ (Tahun 2008).
      11. AMD TURION.
      12. AMD FM1 + FM2.
      13. AMD BULLDOZER.
      14. AMD ZEN (Ryzen).

Prosesor AMD K5 
    
      AMD K5 awalnya dibuat supaya dapat bekerja pada semua motherboard yg mendukung Intel. Jadi motherboard yg mendukung Intel akan mendukung pula AMD K5. Pada waktu itu tidak semua motherboard dapat langsung mengenali AMD dan harus dilakukan Upgrade BIOS untuk bisa mengenali AMD.
 Gambar. Prosesor AMD K5

    K5 adalah prosesor x86 pertama AMD untuk di gunakan sepenuhnya di rumah. Diperkenalkan pada Maret 1996, kompetisi utama adalah Intel Pentium mikroprosesor. K5 adalah desain ambisius, lebih dekat ke Pro Pentium daripada Pentium mengenai solusi teknis dan arsitektur internal. Namun, produk akhir lebih dekat ke Pentium mengenai kinerja, meskipun lebih cepat untuk  dibandingkan dengan Pentium.

      Rincian Kerja. K5 didasarkan pada internal 29K arsitektur prosesor RISC dengan x86. K5 menawarkan kompatibilitas x86 yang baik. Semua model memiliki 4,3 juta transistor, dengan lima unit integer yang bisa memproses instruksi rusak dan satu unit floating point. Target cabang penyangga empat kali ukuran Pentium dan dapat mendaftarkan pengubahan nama kinerja paralel perbaikan dari jalur. Eksekusi Chip untuk petunjuk jalur cabang menjadi berkurang, sekitar 16 KB. Empat arah set instruksi cache asosiatif dan data cache sebesar 8 KB. K5 tidak memiliki instruksi MMX, tapi Intel mulai menawarkannya di prosesor Pentium MMX-nya yang diluncurkan pada awal 1997.

      Performa. K5 mewakili kesempatan awal AMD untuk mengambil kepemimpinan teknis dari Intel. Meskipun chip membahas konsep desain yang tepat, pelaksanaan rekayasa yang sebenarnya memiliki masalah. Seperti, tingkat pembacan rendah yang di sebabkan karena keterbatasan AMD, sebuah perusahaan  manufaktur yang canggih pada saat itu. Dan sebagian masalah muncul karena desain itu sendiri (Misal : banyak tingkat logika, sehingga memperlambat ke exsekusi). Meski memiliki unit prediksi cabang empat kali ukuran Pentium, namun hal ini tidak memberikan kinerja yang unggul, bagaimana pelaksanaannya yang jauh dari tujuan. Meskipun begitu, kinerja floating point K5 lebih baik daripada Cyrix 6x86, namun floating point K5 lebih lemah dibandingkan dengan Pentium.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb9ChMN6YW7blyqye3Op5wkmidpguAtp-PxQhRP0liSqMGEVjCVVkDmGrt_lsBen9uT-kROhjp3K966UVNtJKdaVbt-1O5qbhVHgLQvMF1vZFr7UFnzAlxMemlFkqgxAhyphenhyphenPV2WcaAFmoKI/s1600/4.png

Ada dua set prosesor K5, yakni internal SSA / 5 dan 5K86 (dirilis dengan label K5). 
    1. The SSA / 5 ;
           - Kecepatan performa dari 75 ke 100 MHz (5K86 P75 ke P100, kemudian K5 PR-75  
             untuk PR100)
    2. 5K86 
           - Kecepatan performa dari 90-133 MHz. 

        AMD menggunakan apa yang disebut PR (performance rating), untuk label chip sesuai dengan kesetaraan mereka ke Pentium. Dengan demikian, suatu MHz Chip 116 dari baris kedua dipasarkan sebagai "K5 PR166". 
     AMD juga sempat menunda pemanufakturannya disebabkan rilisan PR200, yakni perkembangan yang dapat di katakan hampir sejajar dengan rilisan K6. Karena AMD tidak ingin dua chip bersaing, maka K5-PR200 hanya di buat dalam jumlah kecil.

Sumber :
  *http://belajarkus.blogspot.co.id/2016/09/sejarah-amd-k5.html 
  *https://gaptekforever.blogspot.com/2016/12/processor-mad-dari-generasi-pertama-k5.html
  *https://pmktentangintelpentium.wordpress.com/perkembangan-processor-amd/
  *http://rafii-naufal.blogspot.co.id/2017/10/organisasi-dan-arsitektur-komputer.html
 

Tuesday, October 24, 2017

Tugas Softskill ::: ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER


Nama : Sasongko Triananda
Kelas  : 4IB06-C
NPM   : 1A414064

ORGANISASI DAN ARSITEKTUR KOMPUTER


1. AMD

       Sebuah perangkat komputer bekerja dengan menggabungkan fungsi-fungsi dari beberapa komponen utama dan pendukungnya, salah satunya adalah prosesor. Ada beberapa sistem prosesor yang digunakan agar performance dari sebuah PC dapat bekerja secara maksimal sesuai dengan tujuan penggunaan. Sistem atau komponen tersebut diantaranya adalah CPU, GPU, dan APU.
        AMD selaku perusahaan yang bergerak dibidang pengembangan dan pembuatan prosesor tentu saja memasukan salah satu dari komponen pembentuk PC tersebut dalam suatu rancangannya agar dapat bersaing dalam pangsa pasar prosesor. Salah satu andalan dari AMD dalam prosesor buatannya adalah dengan hadirnya sistem APU (accelerated proccessor unit) yang menggabungkan sistem CPU (central proccessing unit) dan GPU (graphical proccesing unit) kedalam satu chip-on board. Sistem APU ini akan memberikan keuntungan berupa kecepatan proses yang lebih tinggi dengan digabungkannya fungsi dari CPU dan GPU dalam satu chip. Untuk penggunaan khusus (seperti gaming) penggunaan APU mungkin tidak terlalu memuaskan, akan tetapi untuk penggunaan umum penggunaan APU ini sangat menjanjikan performansi yang sangat baik yang dapat mengkolaborasikan kegiatan komputasi secara umum tetapi dengan kualitas grafik yang tinggi.

Sejarah AMD

      AMD (Advanced Micro Devices, Inc) adalah perusahaan semikonduktor multinasional Amerika Serikat yang berbasis di Sunnyvale, California yang mengembangkan prosesor komputer dan teknologi yang terkait untuk pasar konsumen dan komersial. Produk yang utama termasuk mikroprosesor, chipset motherboard, embedded prosesor kartu grafis (GPU) dan prosesor untuk server, workstation dan komputer pribadi (PC), dan teknologi prosesor untuk perangkat genggam, televisi digital, mobil, konsol game, dan aplikasi lainnya yang terdapat sistem.
      AMD mulai menggebrak pasaran dengan prosesor buatannya sendiri pada tahun 1996, dengan merilis AMD K5. Sebelumnya, AMD sudah membuat prosesor seperti AM486 pada masa Intel 386 dan 486, namun masih di bawah lisensi Intel. AMD K5 ini mendapat respon yang baik. Kemudian ada AMD K6 yang dirilis pada tahun 1997, dengan kecepatan 166 dan 200MHz. Prosesor ini memang dirilis untuk diadu dengan kemampuan prosesor Intel.
Kelebihan dari prosesor-prosesor AMD adalah kemampuannya untuk di overclock. Sama dengan AMD, setelah memproduksi prosesor X86 untuk Intel pada masa Intel 286 dan 386, Cyrix memutuskan untuk memebuat sendiri dengan merilis Cyrix 486 DX-4 untuk pertama kalinya di awal 90-an. Dilanjutkan pada tahun 1995, Cyrix merilis Cyrix 6X86, prosesor dengan kecepatan tinggi di angkatannya, yang sayangnya punya masalah pada kompatibilitas dan panas. Pada tahun 1999 Cyrix dibeli oleh VIA, perusahaan chipset asal Taiwan.
      AMD mengumumkan merger dengan ATI Technologies pada 24 Juli 2006. AMD dibayar $ 4,3 miliar dalam bentuk uang tunai dan 58 juta saham dari saham dengan total sebesar US $ 5,4 miliar. Merger selesai pada 25 Oktober 2006 dan ATI sekarang bagian dari AMD.

7th APU Gen codename Bristol Ridge

     Seiring dengan perkembangan prosesor yang semakin pesat, beberapa generasi prosesor dari AMD hadir untuk menjawab kebutuhan pasar terhadap prosesor dengan spesifikasi tinggi dan dengan harga yang sangat bersaing bahkan terbilang lebih murah. Salah satu arsitektur prosesor AMD adalah AMD Llano (FM1) dan AMD Trinity (FM2) yang memiliki kelebihan berupa sistem APU pada chip nya. AMD Llano merupakan generasi pertama dalam AMD APU sedangkan AMD Trinity merupakan generasi kedua dari jenis AMD ini. AMD APU sendiri memiliki arsitektur yang unik dimana mereka memiliki modul CPU AMD, cache, dan discrete-class graphics processor yang mampu mengolah CPU dan GPU bekerja secara otomatis, tergantung pada kebutuhan beban kerja. Dimulai pada generasi kedua APU (Trinity) spesifikasi frekuensi yang digunakan cukup bersaing yaitu pada frekuensi maksimal 4,5 GHz serta dapat dilakukan unlock pada CPU untuk performa overclocking ekstrem mencapai 6,5 GHz.
      Dengan spesifikasi yang mumpuni pada generasi kedua tersebut, pada generasi ketujuh dari AMD APU ini diberikan spesifikasi yang lebih baik lagi dalam hal penggunaan kartu grafis dan penggunaan daya. Selain itu inti core pada generasi ketujuh berbasis pada arsitektur excavator yang memiliki inti core lebih besar dibanding generasi sebelumnya yang berbasis pada arsitektur puma maupun beema. Meskipun hanya dual core tetapi AMD mengklaim bahwa performa dari AMD APU generasi ketujuh ini tidak kalah dibandingkan generasi sebelumnya.
      Salah satu keluaran generasi ketujuh ini adalah AMD A12 Series. AMD A12 memiliki seri diantaranya AMD A12-9700P, AMD A12-9730P, dan AMD A12-9800P. Untuk seri 9700P memiliki TDP (Thermal Design Power) sebesar 15W sedangkan untuk seri 9730P memiliki TDP sebesar 35W dengan dilengkapi oleh RadeonTM R7 Graphic untuk menunjang performa graphical dari prosesor seri ini.
      Pada seri AMD A12-9800P frekuensi maksimum yang dapat digunakan adalah 3800MHz dengan turbo frekuensi yang dapat dihasilkan sebesar 4200MHz. Meskipun begitu, AMD A12-9800P memiliki socket AM4 yang memiliki jumlah pin lebih banyak dan luasan area kontak yang lebih dibandingkan generasi pendahulunya yaitu FM2. Seri ini juga dilengkapi dengan Radeon R7 Graphic Series untuk menunjang performa graphicalnya sama seperti seri 9700P dan 9730P serta nilai TDP sebesar 65W. Perlu diketahui juga bahwa pada seri AMD A12 ini dapat dilakukan overclocking seperti pada generasi sebelumnya.
Secara keseluruhan AMD A12 Series ini juga dapat mendukung RAM terbaru yaitu DDR4 dengan performa gaming yang diklaim 31% lebih unggul dibanding kompetitornya. Selain itu AMD APU A12 ini sendiri juga dibekali oleh AMD dengan media akselerator terintegrasi yang mendukung penuh HEVC (High Efficient Video Codec) 4K H.265 yang mampu menjadikannya solusi sistem HTPC (Home Entertainment PC) modern.
Pada pengukuran konsumsi daya, AMD A12 Bristol Ridge menunjukkan efisiensi daya yang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya yaitu Kaveri A10 yang ditunjukkan dengan konsumsi daya lebih rendah hingga 75% pada kondisi diam. Selain efiensi daya, temperatur operasional juga menurun cukup signifikan. Jika diakumulasi dan dirata-rata maka Performance per Watt Bristol Ridge meningkat lebih dari 50% dibanding Kaveri, hal ini cukup luar biasa mengingat ukuran transistor masih sama-sama 28nm.


2. INTEL

      Processor sering disebut sebagai otak dan pusat pengendali computer yang didukung oleh kompunen lainnya. Processor adalah sebuah IC yang mengontrol keseluruhan jalannya sebuah sistem komputer dan digunakan sebagai pusat atau otak dari komputer yang berfungsi untuk melakukan perhitungan dan menjalankan tugas. Processor terletak pada socket yang telah disediakan oleh motherboard, dan dapat diganti dengan processor yang lain asalkan sesuai dengan socket yang ada pada motherboard. Salah satu yang sangat besar pengaruhnya terhadap kecepatan komputer tergantung dari jenis dan kapasitas processor.
     Prosesor adalah chip yang sering disebut Microprosessor yang sekarang ukurannya sudah mencapai Gigahertz (GHz). Ukuran tersebut adalah hitungan kecepatan prosesor dalam mengolah data atau informasi. Merk prosesor yang banyak beredar dipasatan adalah AMD, Apple, Cyrix VIA, IBM, IDT, dan Intel. Bagian dari Prosesor Bagian terpenting dari prosesor terbagi 3 yaitu :
a) Aritcmatics Logical Unit (ALU)
b) Control Unit (CU)
c) Memory Unit (MU)

Cara kerja

      Cara kerja prosesor akan terus terhubung dengan komponen komputer yang lainnya, terutama hardisk dan RAM. Fungsi Prosesor juga di gambarkan sebagai otak dari sebuah komputer itu sendiri, di mana setiap data akan melalui processor mengeluarkan atau output yang sepatutnya. Prosesor juga dikenal sebagai Central Processing Unit atau ringkasan CPU.

Sejarah dan Perkembangan Processor Intel

RAM STATIS
      Dimulai pada tahun 1969, Intel mengumumkan produk pertamanya, RAM statis 1101, metal oxide semiconductor (MOS) pertama di dunia. Ia memberikan sinyal pada berakhirnya era memori magnetis.
Selanjutnya dikembangkan lagi pada tahun 1971 munculah microprocessor pertama Intel, microprocessor 4004 ini digunakan pada mesin kalkulator Busicom. Lanjut ke tahun 1972 munculah microprocessor 8008 yang berkekuatan 2 kali lipat dari pendahulunya yaitu 4004. Pada tahun 1974, 8080 Microprocessor Menjadi otak dari sebuah komputer yang bernama Altair,
       Setelah itu di tahun 1978, 8086-8088 Microprocessor menjadi sebuah penjualan penting dalam divisi komputer terjadi pada produk untuk komputer pribadi buatan IBM yang memakai prosesor 8088 yang berhasil mendongkrak nama intel.
Terakhir pada tahun 1982, Intel 286 Microprocessor atau yang lebih dikenal dengan nama 80286 adalah sebuah processor yang pertama kali dapat mengenali dan menggunakan software yang digunakan untuk processor sebelumnya.

MICROPROCESSOR
      Perkembangan Intel berlanjut pada tahun 1985, Intel386 Microprocessor. Intel 386 adalah sebuah prosesor yang memiliki 275.000 transistor yang tertanam diprosessor tersebut yang jika dibandingkan dengan 4004 memiliki 100 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan 4004.
Kemudian pada tahun 1989, Intel486 DX CPU Microprocessor merupakan prosesor pertama dengan lebih 1 juta transistor. Sebelumnya sudah dikenal generasi XT i186, dilanjutkan dengan generasi AT i286, i386 hingga i486. i486 dengan chip 32 bit ini bekerja dengan clock sampai 100MHz.

PENTIUM I
Processor Intel Pentium series pada tahun 1993, Intel® Pentium® Processor yang lebih dikenal dengan Pentium I dengan lebih dari 3 juta transistor. Chip ini menyimpan sebuah bug. Kemudian pada tahun 1995, Intel® Pentium® Pro Processor yang dirancang untuk digunakan pada aplikasi server dan workstation, yang dibuat untuk memproses data secara cepat, processor ini mempunyai 5,5 jt transistor yang tertanam.


PENTIUM II
Pada tahun 1997, Intel® Pentium® II Processor yang merupakan perkembangan berikutnya dengan clock hingga 450 MHz dan menampung sekitar 7,5 juta transistor diintegrasikan dengan chace level 2 (L2).

PENTIUM III
Pada tahun 1999 lahirlah processor Pentium III lahir dengan slogan Internet Streaming Extension. Pentium III didukung dengan 44 juta transistor dan dapat mendukung lebih banyak proses secara paralel. Pada tahun ini juga lahir Processor  Intel® Celeron® yang dikeluarkan sebagai processor yang ditujukan untuk pengguna yang tidak terlalu membutuhkan kinerja processor yang lebih cepat.
Intel® Pentium® III Xeon® Processor merupakan produk terakhir dari Pentium III series. Intel kembali merambah pasaran server dan workstation dengan mengeluarkan seri Xeon tetapi jenis Pentium III yang mempunyai 70 perintah SIMD. Keunggulan processor ini adalah ia dapat mempercepat pengolahan informasi dari system bus ke processor , yang juga mendongkrak performa secara signifikan. Processor ini juga dirancang untuk dipadukan dengan processor lain yang sejenis.

PENTIUM IV
Kelahiran Intel® Pentium® 4 Processor terjadi pada tahun 2000. Dengan clock 4 kali lebih besar dari Pentium III, Pentium 4 lahir dengan clock hingga 3.8 GHz. Pada tahun 2001 Intel kembali merilis Intel® Xeon® Processor untuk kebutuhan server. Processor Intel Pentium 4 Xeon merupakan processor Intel Pentium 4 yang ditujukan khusus untuk berperan sebagai computer server. Processor ini memiliki jumlah pin lebih banyak dari processor Intel Pentium 4 serta dengan memory L2 cache yang lebih besar pula.

INTEL ITANIUM
Pada tahun 2001 juga Processor Intel® Itanium® dilahirkan. Itanium adalah processor pertama berbasis 64 bit yang ditujukan bagi pemakain pada server dan workstation serta pemakai tertentu.
Selanjutnya pada tahun 2002, Intel® Itanium® 2 Processor merupakan generasi berikutnya. Itanium 2 adalah generasi kedua dari keluarga Itanium. Processor 64 bit dengan 221 juta transistor ini mencapai clock maksimum 1 GHz. Processor ini tidak sukses di pasaran, bahkan namanyapun nyaris tidak pernah terdengar.


INTEL PENTIUM M
Processor Intel® Pentium® M Processor yang ditujukan untuk notebook ini dikenal dengan Pentium M tahun 2003. Merupakan processor yang dirampingkan hingga 77 juta transistor. Pentium M dibuat untuk menggantikan Pentium 4 yang boros penggunaan daya pada notebook. Chipset 855, dan Intel® PRO/WIRELESS 2100 adalah komponen dari Intel® Centrino.
Masih pada tahun yang sama Intel E7520/E7320 Chipsets lahir. 7320/7520 dapat digunakan untuk dual processor dengan konfigurasi 800MHz FSB, DDR2 400 memory, and PCI Express peripheral interfaces.

INTEL PENTIUM DUAL CORE
Pada tahun 2005 Penggabungan kinerja Hyperthreading dan penggunaan daya Pentium M, lahir processor DualCore dengan clock maksimal 2 GHz.
Intel Pentium D 820/830/840 Processor berbasis 64 bit dan disebut dual core karena menggunakan 2 buah inti, dengan konfigurasi 1MB L2 cache pada tiap core, 800MHz FSB, dan bisa beroperasi pada frekuensi 2.8GHz, 3.0GHz, dan 3.2GHz. Pada processor jenis ini juga disertakan dukungan HyperThreading.

INTEL CORE 2 DUO dan CORE 2 QUAD
Pada tahun 2006 Penggunaan dan pemasaran generasi DualCore belum habis, setahun kemudian diluncurkan Core2Duo yang mengintegrasikan hampir 300 juta transistor dengan 2 buah core yang bekerja dalam 1 processor mampu bekerja hingga 3.3 GHz. Masih di tahun yang sama Intel Core 2 Quad Q6600 muncul Processor untuk type desktop dan digunakan pada orang yang ingin kekuatan lebih dari komputer yang ia miliki memiliki 2 buah core dengan konfigurasi 2.4GHz dengan 8MB L2 cache (sampai dengan 4MB yang dapat diakses tiap core ), 1.06GHz Front-side bus, dan thermal design power ( TDP ).
Untuk server ditahun yang sama Intel Quad-core Xeon X3210/X3220 diproduksi. Processor yang digunakan untuk tipe server dan memiliki 2 buah core dengan masing-masing memiliki konfigurasi 2.13 dan 2.4GHz, berturut-turut , dengan 8MB L2 cache ( dapat mencapai 4MB yang diakses untuk tiap core ), 1.06GHz Front-side bus, dan thermal design power (TDP).



INTEL CORE i3, i5 DAN i7
Pada tahun 2009 Processor Intel i Series lahir. Dimulai dari Intel Core i3. Intel Core i3 merupakan varian paling value dibandingkan dua saudaranya yang lain. Processor ini akan mengintegrasikan GPU (Graphics Processing Unit) alias Graphics On-board didalam processornya. Kemampuan grafisnya diklaim sama dengan Intel GMA pada chipset G45. Selain itu Core i3 nantinya menggunakan manufaktur hybrid, inti processor dengan 32nm, sedangkan memory controller/graphics menggunakan 45nm. Code produk Core i3 adalah Arrandale.
Intel Core i5
Jika Bloomfield adalah codename untuk Core i7 maka Lynnfield adalah codename untuk Core i5. Core i5 adalah seri value dari Core i7 yang akan berjalan di socket baru Intel yaitu socket LGA-1156.  Kelebihan Core i5 ini adalah ditanamkannya fungsi chipset Northbridge pada inti processor (dikenal dengan nama MCH pada Motherboard). Maka motherboard Core i5 yang akan menggunakan chipset Intel P55 (dikelas mainstream) ini akan terlihat lowong tanpa kehadiran chipset northbridge. Pada Core i5 cache tetap sama, yaitu 8 MB L3 cache.
Intel Core i7
Core i7 sendiri merupakan processor pertama dengan teknologi Nehalem. Nehalem menggunakan platform baru yang betul-betul berbeda dengan generasi sebelumnya. Salah satunya adalah mengintegrasikan chipset MCH langsung di processor, bukan motherboard. Nehalem juga mengganti fungsi FSB menjadi QPI (Quick Path Interconnect) yang lebih revolusioner.

INTEL SANDY BRIDGE
Pada tahun 2011, lahir generasi 2 dari intel core i 2000 series. Intel core i3, i5 dan i7 Sany Bridge Series. Keunggulan processor ini dari generasi sebelumnya adalah, graphic lebih maknyus, clock speed yang lebih tinggi dan TDP yang lebih rendah. Processor Seri ini menggunakan Chipset dengan socket LGA 1155.
Processor unggulan Sandy Bridge Series adalah Intel Core i7 2700K. Procie ini memiliki Quard Core Processor (4 Core), Clock Speed 3.5 GHz dan turbo clock speed 3.9 GHz, Graphic Clock mode standar mencapai 850 MHz dan pada moder turbo turbo mampu mencapai kecepatan 1350 MHz, Chace dibekali 8 MB, TDP 95 W, Diproduksi pada 2011-10-24, dengan harga $332, menggunakan socket LGA 1155 DMI 2.0, PCIe 2.0, memory Up to dual channel  DDR3-1333.


INTEL IVY BRIDGE
Pada tahun 2012, muncul lagi intel generasi 3 yaitu Intel Core i 3000 Series dengan chipset LGA 1155 dan LGA 2011. Kenggullan dari generasi sabelumnya adalah peningkatan teknology menjadi lebih tinggi, graphic yang menggunakan seri terbaru yang tentu saja lebih cepat, clock speed yang ditingkatkan dan pengurangan TDP artinya penggunaan menjadi lebih rendah (hanya berlaku procie yang memiliki spek yang sama).
Produk unggulan pada seri ini adalah Core i7 Extreme 3970X, memiliki 6 core (12 thread), clock 3.5 GHz dan turbo4.0 GHz, Chace 15 MB, TDP 150 W, menggunakan socket terbaru yaitu LGA 2011, DMI 2.0, tentu saja sudah mendukung PCIe 2.0 untuk keperluan graphic tambahan, Memory Up to quad channel DDR3-1600.

INTEL HASWELL
Tahun 2013, Intel kembali merilis processor berteknologi tinggi. Intel generasi 4 core i 4000 series. Kenggullan dari generasi sabelumnya adalah peningkatan teknolog, graphic, clock speed dan pengurangan TDP.
Produk unggulan pada seri ini adalah Core i7 Extreme 4960X, memiliki 6 core (12 thread), dengan clock speed 3.6 GHz dan turbo 4.0 GHz, chace 15 MB, TDP 130 W, Diproduksi 10 September 2013, harga $999, LGA 2011, DMI 2.0 PCIe 3.0, Memory Up to quad channel DDR3-1866.

INTEL HASWELL X99
Tahun ini (2014) Intel kembali menggebrak dunia komputer dengan meluncurkan processor Intel Core i7 Extreme 5960X (Haswell 5000 series). Tidak tanggung-tanggung procie ini memiliki 8 buah core dan 16 thread core. Menggunakan Socket X99 LGA 2011-13 dan support dengan memory DDR4 terbaru. Apa lagi dipadu dengan Nvidia GTX Titan Z.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan
1. Temperatur pada Intel dapat diatur oleh processornya sendiri (processor akan    
     mengurangi kecepatan jika processor terlalu panas.
2. Pipeline pada intel lebih panjang dibanding prosesor lain seperti AMD.
3. Intel menang di brand image dan marketnya.
4. Pada prosesor Intel Pentium 4 harga standard, kinerjanya lumanyan cepat.
5. Beberapa uji joba permorma ternyata prosesor intel lah yang kuat dalam hal apapun
     disbanding prosesor lain (AMD).
6. Prosesor Intel lebih kuat dari porsesor AMD pada aplikasi multimedia

Kekurangan
1. Lemah untuk urusan grafis , gaming dan program 3D bila dibanding dengan AMD.
2. Untuk menggunakan prosesor Intel anda harus mengeluarkan banyak biaya apalagi
     dengan performa yang di hasilkan oleh prosesor Intel yaitu Intel i7.





Monday, April 24, 2017

Softskill ::: List Pemrograman


Listing Program Power Bank Menggunakan Bahasa C


Indikator-indikator (seperti, teks) akan di tampilkan di display Casing Power bank menggunakan perangkat LCD. Di bawah ini adalah daftar bahasa pemrograman yang digunakan untuk menampilkan kondisi pengecekan seperti saat normal ataupun  saat pengisian di Display LCD.


#include <mega8535.h>
#include <delay.h>

// ALPHANUMERIC LCD MODULE FUNCTIONS

#asm
 .equ __lcd_port=0x15 ;PORTC
#endasm
#include <lcd.h>
#include <stdio.h>
#include <stdlib.h>

// MENU

int a;
int b;

// SOURCE

char voltip[4], arusip[4], dayaip[16];
float dtadc0, dtadc1, dayasumber;

// BATTERY

char temp3[4], temp4[4], temp5[4], temp6[4], temp7[4], temp8[4];
float dtadc2, dtadc3, dtadc4, lb1, lb2, lb3;

//CHARGING

int c, cs;
char cstat[33];

// LOAD

char voltop[4], arusop[4], dayaop[4];
float dtadc5, dtadc6, dayakeluar;
#define ADC_VREF_TYPE 0x40

// READ THE AD CONVERSION RESULT

unsigned int read_adc(unsigned char adc_input)

{

ADMUX=adc_input | (ADC_VREF_TYPE & 0xff);

// DELAY NEEDED FOR THE STABILIZATION OF THE ADC INPUT VOLTAGE

delay_us(10);

// START THE AD CONVERSION

ADCSRA|=0x40;

// WAIT FOR THE AD CONVERSION TO COMPLETE

while ((ADCSRA & 0x10)==0);
ADCSRA|=0x10;
return ADCW;
}
void source()
{

 // VOLT

dtadc0=5*(((float)read_adc(0))*5/1023);
ftoa(dtadc0,2,voltip);
lcd_gotoxy(6,0);
lcd_putsf("Volt");
lcd_gotoxy(6,1);
lcd_puts(voltip);
lcd_gotoxy(10,1);
lcd_putsf("V");
delay_ms(25);

 // ARUS

dtadc1=5.405*((((float)read_adc(1))*5/1023)-2.5);
ftoa(dtadc1,1,arusip);
lcd_gotoxy(12,0);
lcd_putsf("Arus");
lcd_gotoxy(12,1);
lcd_puts(arusip);
lcd_gotoxy(15,1);
lcd_putsf("A");
delay_ms(25);

 // DAYA

dayasumber=dtadc0*dtadc1;
ftoa(dayasumber,2,dayaip);
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_putsf("Daya");
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_puts(dayaip);
lcd_gotoxy(4,1);
lcd_putsf("W ");
delay_ms(25);
}
void battery()
{

 // BATTERY 1

dtadc2=27.027*(((float)read_adc(2))*5/1023);
ftoa(dtadc2,0,temp3);
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_putsf("Bat1");
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_puts(temp3);
lcd_gotoxy(3,1);
lcd_putsf("%");

// BATTERY 2

dtadc3=27.027*(((float)read_adc(3))*5/1023);
ftoa(dtadc3,0,temp4);
lcd_gotoxy(6,0);
lcd_putsf("Bat2");
lcd_gotoxy(6,1);
lcd_puts(temp4);
lcd_gotoxy(9,1);
lcd_putsf("%");

// BATTERY 3

dtadc4=27.027*(((float)read_adc(4))*5/1023);
ftoa(dtadc4,0,temp5);
lcd_gotoxy(12,0);
lcd_putsf("Bat3");
lcd_gotoxy(12,1);
lcd_puts(temp5);
lcd_gotoxy(15,1);
lcd_putsf("%");
delay_ms(75);
lcd_clear();;
}
void charging()
{

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<1)
{b=3;}

 // BATTERY 1

dtadc2=27.027*(((float)read_adc(2))*5/1023);
ftoa(dtadc2,0,temp3);
if (dtadc2>=95)
{lb1=1;};
if (dtadc2<=70)
{lb1=0;};
if (dtadc2>70&&dtadc2<98)
{lb1=2;};
ftoa(lb1,0,temp6);

 // BATTERY 2

dtadc3=27.027*(((float)read_adc(3))*5/1023);
ftoa(dtadc3,0,temp4);
if (dtadc3>=95)
{lb2=1;};
if (dtadc3<=70)
{lb2=0;};
if (dtadc3>70&&dtadc3<98)
{lb2=2;};
ftoa(lb2,0,temp7);

 // BATTERY 3

dtadc4=27.027*(((float)read_adc(4))*5/1023);
ftoa(dtadc4,0,temp5);
if (dtadc4>=95)
{lb3=1;};
if (dtadc4<=70)
{lb3=0;};
if (dtadc4>70&&dtadc4<98)
{lb3=2;};
ftoa(lb3,0,temp8);

// CHARGING BATTERY 1

if (lb1==0&&lb2==0&&lb3==0)
{PORTD=0x09;};
if (lb1==0&&lb2==0&&lb3==1)
{PORTD=0x09;};
if (lb1==0&&lb2==1&&lb3==0)
{PORTD=0x09;};
if (lb1==0&&lb2==1&&lb3==1)
{PORTD=0x09;};

 // CHARGING BATTERY 2

if (lb1==1&&lb2==0&&lb3==0)
{PORTD=0x0A;};
if (lb1==1&&lb2==0&&lb3==1)
{PORTD=0x0A;};

 // CHARGING BATTERY 3

if (lb1==1&&lb2==1&&lb3==0)
{PORTD=0x0C;};

 // BYPASS TO DUMMY LOAD

if (lb1==1&&lb2==1&&lb3==1)
{PORTD=0x00;};
if (PORTD==0x09)
{cs=1;};
if (PORTD==0x0A)
{cs=2;};
if (PORTD==0x0C)
{cs=3;};
if (PORTD==0x00)
{cs=0;};

 // INDICATOR CHARGING

if (PORTD==0x09||PORTD==0x0A||PORTD==0x0C)
{PORTB.4=1;}
else
{PORTB.4=0;};
}
void load()
{

 // VOLT

dtadc5=5*((float)read_adc(5))*5/1023;
ftoa(dtadc5,2,voltop);
lcd_gotoxy(6,0);
lcd_putsf("Volt");
lcd_gotoxy(6,1);
lcd_puts(voltop);
lcd_gotoxy(10,1);
lcd_putsf("V");
delay_ms(25);


// ARUS

dtadc6=5.405*((((float)read_adc(6))*5/1023)-2.5);
ftoa(dtadc6,1,arusop);
lcd_gotoxy(12,0);
lcd_putsf("Arus");
lcd_gotoxy(12,1);
lcd_puts(arusop);
lcd_gotoxy(15,1);
lcd_putsf("A");
delay_ms(25);

 // DAYA

dayakeluar=dtadc5*dtadc6;
ftoa(dayakeluar,2,dayaop);
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_putsf("Daya");
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_puts(dayaop);
lcd_gotoxy(4,1);
lcd_putsf("W ");
delay_ms(25);
if (dtadc6>0)
{PORTB.5=1;}
else
{PORTB.5=0;};
}
void warning()
{
PORTD=0xF0; //discharging all battery
lcd_gotoxy(3,0);
lcd_putsf("Sources Is Not Available!");
PORTB.6=1;
PORTB.7=1;
delay_ms(25);
PORTB.4=0;
PORTB.5=0;
PORTB.6=0;
PORTB.7=0;
delay_ms(25);
if (PINB.0==0||PINB.2==0)
{
PORTB.7=0;
b=0;
lcd_clear();
};
}

// DECLARE YOUR GLOBAL VARIABLES HERE

void main(void)
{
PORTA=0x00; DDRA=0x00;
PORTB=0x00; DDRB=0xF8;
PORTC=0x00; DDRC=0xFF;
PORTD=0x00; DDRD=0x0F;
TCCR0=0x00; TCNT0=0x00; OCR0=0x00;
TCCR1A=0x00; TCCR1B=0x00;
TCNT1H=0x00; TCNT1L=0x00;
ICR1H=0x00; ICR1L=0x00;
OCR1AH=0x00; OCR1AL=0x00;
OCR1BH=0x00; OCR1BL=0x00;
ASSR=0x00; TCCR2=0x00; TCNT2=0x00;
OCR2=0x00; MCUCR=0x00; MCUCSR=0x00;
TIMSK=0x00; ACSR=0x80; SFIOR=0x00;
ADMUX=ADC_VREF_TYPE & 0xff;
ADCSRA=0x84; SFIOR&=0xEF;

// LCD MODULE INITIALIZATION

lcd_init(16);
a=0; b=0; c=0;
PORTD=0x00;
PORTB.3=1;

// GREETING MESSAGE

lcd_gotoxy(1,0);
lcd_putsf("Welcome To The Green Technology");
delay_ms(150);
lcd_clear();
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_putsf("DISPLAY -1126-");
delay_ms(150);
lcd_clear();
while (1)
{
PORTB.7=0;

// KEEP THE PROCESS IF CHARGING WAS ACTIVATED

if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};

// HOME DISPLAY

while (a==0)
{
lcd_gotoxy(4,0);
lcd_putsf("-Active-");
lcd_gotoxy(5,1);
lcd_putsf("[menu]");
if (PINB.1==0)
{
a++;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};

 // KEEP CHARGING

if (c==1)
{charging();


// SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};

 // LOAD STATUS

dtadc6=5.405*((((float)read_adc(6))*5/1023)-2.5);
if (dtadc6>0)
{PORTB.5=1;}
else
{PORTB.5=0;};
};

// SOURCE DISPLAY

while (a==1&&b==0)
{
lcd_gotoxy(5,0);
lcd_putsf("Source");
if (PINB.0==0)
{
a=0; b=0;
delay_ms(25);
};
if (PINB.1==0)
{
a++;b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};
if (PINB.2==0)
{
b=1;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};

 // KEEP CHARGING

 if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};
};

// SOURCE MENU

while (a==1&&b==1)
{
source();
if (PINB.0==0)
{
b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};

 // KEEP CHARGING

if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};
}


// BATTERY DISPLAY

while (a==2&&b==0)
{
lcd_gotoxy(4,0);
lcd_putsf("Battery");
if (PINB.0==0)
{
a=0;
delay_ms(25);
};
if (PINB.1==0)
{
a++;b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};
if (PINB.2==0)
{
b=1;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};

 // KEEP CHARGING

if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};
}

// BATTERY MENU

while (a==2&&b==1)
{
battery();
if (PINB.0==0)
{
b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};

 // KEEP CHARGING

if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};
}

// CHARGING DISPLAY

while (a==3&&b==0)
{
lcd_gotoxy(4,0);
lcd_putsf("Charging");
if (PINB.0==0)
{
a=0;
delay_ms(25);
};
if (PINB.1==0)
{
a++;b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};
if (PINB.2==0)
{
b=1;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};




 // KEEP CHARGING

if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};
}

//START CHARGING

while (a==3&&b==1)
{
lcd_gotoxy(5,0);
lcd_putsf("Start");
lcd_gotoxy(3,1);
lcd_putsf("Charging ?");
if (PINB.2==0)
{
b=2;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};
if (PINB.0==0)
{
b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};
}

// CHARGING MENU

while (a==3&&b==2)
{
charging();
lcd_gotoxy(4,0);
lcd_putsf("Charging");
lcd_gotoxy(3,1);
sprintf(cstat,"Battery 0%d",cs);
lcd_puts(cstat);
if (PINB.0==0)
{
b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};
c=1;                                 // CHARGING FLAG
}

//WARNING IF SOURCES IS NOT AVAILABLE

while (a==3&&b==3)
{warning();}

//LOAD DISPLAY

while (a==4&&b==0)
{
lcd_gotoxy(6,0);
lcd_putsf("Load");
if (PINB.0==0)
{
a=0;
delay_ms(25);
};
if (PINB.1==0)
{
a=1;b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};
if (PINB.2==0)
{
b=1;
delay_ms(25);
lcd_clear();
};

 // KEEP CHARGING

if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};
};

// LOAD MENU

while (a==4&&b==1)
{
load();
if (PINB.0==0)
{
b=0;
delay_ms(25);
lcd_clear();
}


 // KEEP CHARGING

if (c==1)
{charging();

 // SOURCE CHECKING

dtadc0=((float)read_adc(0))*5/1023;
if (dtadc0<=2)
{
lcd_clear();
a=3; b=3; c=0;
};
};
}
}
}             // End


Jika di atas adalah Power bank yang digunakan untuk menampilkan indikator berbasis Digital, di bawah ini adalah Power Bank yang akan menampilkan Indikator berbasis Analog. Dalam hal ini indikator yang di maksud adalah berupa LED.



            Cara kerja singkat dari rangkaian ini didasarkan pada switching dari dua transistor BC547 sekaligus sebagai driver untuk LED indikator. Dioda zener yang terhubung dengan transistor T1 berfungsi sebagai penstabil tegangan yang disesuaikan dengan baterai yang akan digunakan. LED hijau akan menyala apabila tegangan baterai normal atau pengisian baterai telah penuh. Resistor R1 dan VR 5K disetting untuk menyesuaikan bias dari transistor T1 secara perlahan. Ketika transistor dalam keadaan bekerja, maka T2 akan tertarik ke ground sehingga LED merah akan padam.
             Sebenarnya ini hanyalah segelintir rangkaian dari sekian banyak rangkaian Kontrol Level Baterai yang ada. Baik yang bentuknya Analog ataupun Digital yang berbasis Mikrokontroler.





Wednesday, April 12, 2017

Elektronika Telekomunikasi ::: Penguat Video


PENGUAT video biasanya menggunakan IF (Intermediate Frequency). IF merupakan bandpass amplifier yang berfungsi untuk memperkuat frekuensi menengah (Frekuensi berkisar 455 KHz.  Yang merupakan keluaran mixer hasil pencampuran RF (Radio Frequency) dengan osilator, penguat dengan osilator. IF sendiri termasuk ke dalam jenis Amplifier kelas C. Dimana masih termasuk ke dalam Power amplifier. Namun bukan jenis linier amplifier, tapi masuk ke dalam jenis RF amplifier.

FUNGSI BAGIAN PENGUAT VIDEO IF.

Penguat Video IF merupakan sebuah Band Pass Amplifier yang berfungsi untuk mempekuat frekwensi menengah atau IF (Intermediate Frequency) sinyal pembawa gambar yang berasal dari keluaran Tuner agar levelnya mencukupi untuk dideteksi oleh bagian video detektor. Untuk sistim PAL BG seperti di Indonesia spektrum frekwensi penguat video IF menggunakan center pada frekwensi 38.9Mhz untuk IF sinyal pembawa gambar (video carrier) dan 33.4Mhz untuk sinyal IF pembawa suara (sound carrier).

PENGGUNAAN FREKUENSI IF.

Frekwensi yang digunakan oleh stasiun siaran tv sangat luas sekali , mulai dari frekwensi 30Mhz hingga 900Mhz. Sinyal yang diterima antena teve sangat lemah sekali (hanya sekian per juta volt), dimana sinyal ini harus diperkuat agar levelnya kurang lebih menjadi sekitar 2v pp (peak-to-peak). Adalah sangat sulit untuk men-desain sebuah penguat frekwensi tinggi yang stabil yang mampu bekerja pada spektrum frekwensi yang demikian luas seperti ini. Achirnya diketemukan suatu cara penerimaan yang dinamakan sistim Superheterodyne dimana dengan cara ini dari berbagai macam frekwensi yang diterima antena perlu dirubah menjadi hanya satu macam frekwensi saja, sehingga akan lebih mudah dalam men-desian dan membuat bagian penguatnya.


BAGIAN-BAGIAN KUALITAS PENGUAT VIDEO IF

Sensitivitas penerimaan atau kemampuan menerima sinyal dari antena yang lemah tetapi tetap dapat memberikan kualitas gambar yang bersih dari noise.
Selektivitas penerimaan atau kemampuan untuk memisahkan gangguan dari chanel yang berdekatan.
Kualitas gambar atau kemampuan untuk memberikan detail (resolusi) gambar yang tajam.

SISTEM PENERIMA (RECEIVER) SUPERHETERODIN.

Penerima radio yang langsung memilih frekwensi yang diterima antena, memperkuat sinyal yang diterima dan kemudian langsung dideteksi dinamakan penerima stright atau penerima langsung. Sistim penerima seperti ini mempunyai banyak kelemahan antara lain karena kurang sensitif dan tidak selektif.
Sistim penerimaan yang dinamakan superheterodin diperkenalkan oleh Edwin Armstrong pada tahun 1918 untuk memperbaiki cacat penerima stright, dimana sistim ini hingga sekarang terus digunakan. Pada sistim superheterodin sinyal yang diterima antena dirubah dahulu menjadi frekwensi IF (frekwensi menengah) dengan menggunakan sirkit RF osilator dan mixer. Besarnya frekwensi IF untuk penerima :
1.  AM receicer 455/450Khz
2.  FM receiver 10.7Mhz
3.  TV  receiver ada beberapa sistim yaitu 38.0/38.9/45.75/Mhz. Teve sistim PAL BG/DK menggunakan center frekwensi IF 38.9Mhz.
4.  TV satelit receicer 70Mhz
5.  Radar receiver 30Mhz
6.  Komunikasi receiver dengan gelombang mikro 70/250Mhz


PEMROSESAN SINYAL VIDEO

Pada pemrosesan video dibutuhkan rangkaian-rangkaian yang bertujuan menghasilkan kualitas video yang baik. Rangkaian-rangkaian tersebut diantaranya adalah penguat IF, rangkaian detektor video, video amplifier, AGC (automatic gain control), rangkaian defleksi sinkronisasi, defleksi yoke horizontal, dan high voltage supply (fly back).

1.  Penguat IF (Intermediate Frequency)

 Rangkaian ini berfungsi sebagai penguat sinyal output yang dihasilkan Tuner hingga 1.000 kali. Karena output tuner merupakan sinyal yang lemah dan sangat tergantung pada jarak pemancar, posisi penerima, dan bentang alam. Rangkaian ini juga berguna untuk membuang gelombang lain yang tidak dibutuhkan dan meredam interferensi pelayangan gelombang pembawa suara yang mengganggu gambar.


Dalam penguat IF gambar, untuk mencegah sinyal-sinyal pengganggu yang tidak diperlukan, dipergunakan dua buah penjebak (trap), yaitu penjebak pembawa suara kanal rendah yang berdekatan, dan perangkap bembawa gambar kanal tinggi yang berdekatan, dan juga pelayangan (beat) antar pembawa-pembawa itu, dihilangkan. Pada waktu menerima gelombang TV warna interfrensi pelayangan dari pembawa suara dengan sub pembawa warna merusak gambar yag dihasilkan. Untuk menghilangkan interfrensi pelayangan pembawa suara, maka pembawa suara diredam sekitar 54dB dalam penguat IF gambar dan pula dalam detector video berikutnya. Maka penerima TV warna berbeda dengan penerima TV hitam putih. Pembawa suara pada TV warna dikeluarkan sebelum tingkat detektor video dan diberikan ke detektor IF suara yang dipasang terpisah dengan detector video.

2.  Rangkaian Detektor Video

            Sinyal video komposit dideteksi oleh detektor video dari sinyal IF gambar. Biasanya untuk rangkaian detektor video digunakan detector dioda. Rangkaian ini berfungsi sebagai pendeteksi sinyal video komposit yang keluar dari penguat IF gambar. Selain itu, rangkaian ini berfungsi pula sebagai peredam dari sinyal yang mengganggu karena apabila ada sinyal lain yang masuk akan mengakibatkan buruknya kualitas gambar. Salah satu sinyal yang diredam adalah sinyal suara.


Ada dua macam metode deteksi, pertama menggunakan detektor dioda dan yang lain digunakan detector pulsa sinkronisasi, ini diproduksi berkat perkembangan teknologi IC. Pada metode deektor sinkronisasi, pulsa sinkronisasi diambil dari pembawa IF gambar dan diberikan ke detector sinkronisasi. Sinyal output hasil deteksi akan keluar hanya bila diberikan pulsa sinkronisasi.

3.  Video Amplifier

            Rangkaian ini berfungsi sebagai penguat sinyal luminan yang berasal dari detektor video sehingga dapat menjalankan layar kaca atau CRT (catode ray tube}. Di dalam rangkaian penguat video terdapat pula rangkaian ABL (automatic brightnees level) atau pengatur kuat cahaya otomatis yang berfungsi untuk melindungi rangkaian tegangan tinggi dari tegangan muatan lebih yang disebabkan oleh kuat cahaya pada layar kaca.


Sebuah jaringan penunda (delay line) dipasang pada kedua penguat depan untuk menunda memperlambat sinyal luminan. Pada penguat tingkat kedua dan tingkat ketiga, penguatan atau kontras gambar dapat diatur. Dan untuk menghilangkan komponen krominan sub pembawa, dipasang penjebak 4,43 MHz. Lebih lanjut sebuah rangkaian pengoreksi respon frekuensi tinggi gambar juga dipasang. Pada tingkat akir penguat, dipasang rangkaian rangkaian penyetel kuat cahaya, rangkaian penghilang garis flyback, ABL (automatic Brightness Limiter) dan rangkaian pembangkit komponen DC untuk gambar.



4.  AGC (Automatic Gain Control)

Penguatan penerima TV warna dikontrol secara otomatis dengan rangkain AGC yang tergantung pada kuat medang gelombang TV yang diterima, sehingga output detector video dapat dibuat selalu konstan. Gambar di bawah ini menunjukan diagram AGC. Dengan mendeteksi perubahan output detector video dapat dibuat tegangan AGC yang diumpan balikkan ke penguat HF dan penguat IF gambar.



Ada tiga macam metode mendeteksi tegangan AGC dari sinyal video komposit, yaitu:

a)  Menggunakan tingkat rata-rata
AGC tipe ini memakai deteksi tingkat rata-rata (average level) sinyal video komposit. Karena rangkaian tipe AGC ini sangat sederhana dan dikontrol oleh harga rata-rata sinyal video komposit maka gangguan oleh derau (noise) sangat kecil. Tetapi harga rata-rata berubah, terhadap sinyal pemodulasi, juga kontras gambar dirubah, maka AGC ini sekarang tidak dipakai lagi.

b)  Menggunakan deteksi tingkat puncak (pick level)
AGC tipe ini diatur oleh tingkat puncak hitam sinyal video komposit, yaitu tingkat ujung-ujung pulsa sinkronisasi yang tidak dirubah oleh sinyal prooduksi. Meskipun output tegangan feedback AGC tipe ini besar, bila terdapat derau yang melebihi pulsa sinkronisasi maka tegangan AGC dapat dirubah oleh derau tadi. Maka dipasang rangkaian pembuang derau sebelum rangkaian deteksi AGC itu.

c)  Metode penguncian (keyed)
AGC jenis ini bekerja pada saat ketika ada pulsa sinkronisasi horizontal, dan ini lebih sedikit tergantung oleh derau (nois). Sebagai tambahan karena dapat dipilih konstanta waktu pengisian/pemuatan yang kecil maka sistim AGC terkunci ini dapat mengikuti perubahan dengan cepat terhadap sinyal input seperti misalnya gejala flutter/menggelempar.

5.  Rangkaian Defleksi Sinkronisasi

Rangkaian ini terdiri dari empat blok, yaitu: rangkaian sinkronisasi, rangkaian defleksi vertikal, rangkaian defleksi horizontal, dan rangkaian pembangkit tegangan tinggi.

6.  Defleksi Yoke Horizontal



Berfungsi sebagai berikut :

a)  Menghasilkan arus defleksi yang cukup untuk Deflection Yoke untuk scanning electric beam dalam arah horizontal.

b)  Membangkitkan tegangan tinggi melalui gulungan skunder fly back, dan tegangan ini diumpankan ke elektroda anoda CRT dan elektroda fokus.

7. High Voltage Supply (Fly Back)

Berfungsi sebagai penghasil tegangan tinggi untuk dapat mencatu (mengaktifkan) layer CRT agar dapat menghasilkan elektron-elktron yang dapat menampilkan gambar. Tegangan input yang diolah berasl dari tegangan VCC dengan dipengaruhi adanya kerja transistor horizontal output dengan frekuensi tinggi. Tegangan tinggi ini digunakan untuk mencatu anoda CRT, sedangkan tegangan menengah digunakan untuk mencatu rangkaian video output serta katoda dan grid CRT.











Wednesday, April 5, 2017

Rangkuman Elektronika Telekomunikasi


LINIER AMPLIFIER DAN RF AMPLIFIER
Terdapat 2 tipe dasar pada Power amplifier yang digunakan pada transmiter. Antara lain :

   Linear Amplifier : Kelas A, B, AB.
   RF Amplifier : Kelas C.

Semua audio merupakan amplifier linear. Amplifier RF linier digunakan untuk meningkatkan Power level pada amplitudo RF  yang rendah.
Amplifier linear beroperasi pada kelas A, B, AB dan C. Setiap kelas pada amplifier membedakan biasnya.

Kelas A

Pada bias kelas A, sinyal arus yang dikuatkan mengalir berupa lingkaran penuh 360 derajat. Sehingga sinyal keluaran tidak pernah mencapai saturasi atau cutoff, sehingga tetap berada pada pengoperasian parameter linier. Namun, sangat tidak efisien. Oleh karena itu Penguat kelas A biasa digunakan pada rangkaian bertegangan rendah.
Penguat tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik tertentu yang ada pada garis bebannya. Singkatnya, tipe ini titik kerjanya sekitar berada ditengah-tengah garis beban. Ciri-ciri dari penguat tipe kelas A antara lain : Bekerja pada daerah aktif, Fidelitas tinggi, efisiensi rendah (Transistor bekerja aktif selalu).

Kelas B

Pada bias kelas B, sinyal mendekati 180 derajat. Dimana kondisi ini terjadi karena setengah lingkaran sinyal RF adalah Froward bias pada basis. Sedangkan setengah lingkaran lainnya adalah bias pembalik pada emitor-basis. Hal ini menyebabkan pengurangan sinyal keluaran. Amplifier / penguat kelas B sendiri mengalami bias di Cutoff.
Penguat tipe kelas B memiliki titik kerja di daerah cutoff. Ciri-ciri dari penguat tipe kelas ini antara lain : Efisiensi tinggi, Adanya cacat silang / crossover, panas yang dihasilkan tidak terlalu besar.


Kelas C

Sedangkan untuk kelas C, sudut konduksinya sebesar 120 derajat atau kurang, karena sambungan / junction emitor-basis sedikit berupa reverse bias. Kolektor arus pulsa di penguat kelas C diubah menjadi gelombang sinus terus menerus oleh resonan sirkuit. Penguat kelas C biasanya digunakan untuk meningkatkan daya pada RF.
Penguat tipe kelas C memiliki titik kerja dibawah daerah cutoff. Ciri-ciri dari penguat kelas ini antara lain : Hanya perlu 1 transistor, aktif pada fasa positif, efisiensi tertinggi, fidelitas rendah.

Kelas AB

Pada bias kelas AB melakukan pembiasannya sekat dengan cutoff dengan meneruskan aliran arus. Kelas AB efisiensinya sedikit lebih tinggi dari kelas A, karena arus keluaran yang mengalir melalui penguat akan lebih kecil dap bentuknya bukan lingkaran penuh. Biasanya lebih dari 180 derajat tapi kurang dari 360 derajat. Juga merupakan Common bias untuk push pul audio amplifier maupun Power amplifier RF linier yang push pull.
Penguat kelas AB merupakan tipe penguat yang merupakan gabungan antara kelas A dan B yang bekerja bergantian dengan tipe transistor NPN atau PNP. Ciri-ciri dari penguat kelas ini antara lain : Efisiensi cukup besar, tidak terjadi cacat silang, fidelitas tinggi.

FREKUENSI TRANSISI GAIN UNITY

Adalah frekuensi dimana besarnya penguatan sama dengan Unity atau 0 dB. Dimana frekuensi transisi bergantung pada beta nol.


PENGUAT COMMON – EMITOR


C3 dan C4 adalah kapasitor pemblokir DC dengan reaktansi yang dapat diabaikan pada frekuensi tinggi. Resistor pada Rbias memasok arus bias ke basis dan ini dapat juga dianggap mempunyai pengaruh yang dapat diabaikan terhadap kinerja pada frekuensi tinggi.

PENGUAT COMMON – BASE


Efek transistor Ccb dapat dinolkan sama sekali dihubungkan dengan kapasitor keluaran Cc dan karena tidak menyumbang kepada kapasitansi input. Oleh karena itu, maka resistan masukan untuk rangkaian CB jauh lebih Kecil dari pada untuk rangkaian CE.

PENGUAT CASCODE



Amplifier CE dan CB dapat dikombinasikan untuk membentuk sebuah amplifier yang mempunyai penguat daya tinggi dan stabil. Secara keseluruhan, penguat ini memiliki ciri kinerja yang serupa dengan yang dimiliki oleh penguat CE tapi dengan kestabilan (tidak ada perubahan fase 180 derajat). Dan karena itu, penguat tegangan tersedia tinggi.

RANGAKAIAN PENCAMPUR / MIXER

Mixer digunakan untuk sinyal dari satu frekuensi ke frekuensi lain. Ada sejumlah alasan mengapa pengubahan frekuensi itu diperlukan dan kenyataannya sejumlah proses mixing dipergunakan dalam penerapan khusus yang tampil dengan nama yang berbeda. Contohnya adalah modulasi, demodulasi, multiplikasi frekuensi. Istilah mixer pada umumnya dicadangkan untuk frekuensi menengah dan yang memerlukan masukan dari osilator lokal.
Dalam aplikasi penerima tertentu rangkaian osilatornya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian mixer dan hanya masukan RF dan keluaran IF sajalah yang siap untuk dapat dikendali.

SELF TEST!
1. Linier Power amplifiers are used to Raise The Power level of __ and __ signals.
2. A __ Power amplifier is used to increase The Power level of an FM signal.
3. Linear Power amplifiers operate class ___ and ____ .
4. A class A transistor Power amplifier has an efficiency of 50 %. The output Power is 27 watt. The Power dissipated in The transistor is ____ watt.
5. Class A amplifiers conduct for ___ degrees of a sine wave input.
6. True or fase. With no input, A class B ampilifier does not conduct.
7. Class B RF Power amplifiers normally used a(n) ____ configuration.
8. A class C amplifier conducts for approximately ____ degrees to ___ degrees of The input signal.
9.  In a class C amplifier, collector current flows in The for of _____ .
10. In a class C amplifier, a complete sinusoidal output signal is produced by a(n) ___ .
11. The efficiency of a class C amplifier is in The range of ____ to ____ %.
12. The tuned circuit in The collector of a class C amplifier acts as a filter to eliminate ____ .
13. A class C amplifier whose output tuned circuit resonates at some integer multiple of The input frequency is called a(n) ____ .
14. Frequency multipleks Alt Tractors of 2, 3, 4 and 5 are cascaded. The input is 1,5 MHz. The output is _____ MHz.
15. A class C amplifiers has a DC supply voltage of 28 volt and an average collector current of 1,8 amper. The Power input is ____ watt.
16. RF amplifiers provide initial ____ and ____ in a receiver baut also Add _____ .
17. A low noise transistor preferred at microwave freq. Is The  ____ made of.
18. Most of The gain and selectivity in a superhet is obtained in The _____ amplifier.
19. The selectivity in an IF amplifier is usually produced by using ____ between stages.
20. The bandwidth of a double-tuned transformer depends upon The degree of ____  between primary and secondary windings.
21. In a  double –tuned circuit, minimum bandwidth is obtained with ____ coupling, max bandwidth with ____ coupling and Peak output with _____ or ____ coupling.
22. An IF amplifier that clips The positive and negative peaks of a signal is called a(n) ____ .
23. Clipping occurs in an amplifier because The transistor is driven by a High –level signal into ____ .
24. The gain of a bipolar class A amplifier can be varied by changing The ___ and _____ .
25. The overall RF – IF gain of a receiver Is approximately ____ dB.
26. Using The amplitude of The incoming signal to Control The gain of The receiver is known as ___ .
27. AGC circuits vary The gain of The ____ amplifier.
28. The DC AGC Control voltage is derived krom a(n) ___ circuit connected to The ___ or ___ output.
29. Reverse AGC is where a signal amplitude increase causes a(n) ____ in The IF amplifier collector current.
30. Forward AGC uses a signal amplitude increase to ___ The collector current, which decreases The IF amplifier gain.
31. The AGC of a diferensial amplifier is produced by controlling The current produced by The ___ transistor.
32. In a dual – Gate MOSFET IF amplifier, The DC AGC voltage is apllied to The ___ .
33. Another name for AGC in an AM receiver is ____ .
34. In an AM receiver, The AGC voltage is derived from The ____ .
35. Large input signals cause The gain of a receiver to be ___ by The AGC.
36. An AFC Circuit corrects for frequency drift in The ____ circuit.

37. The AFC DC Control voltage is derived from The ____ circuit in a receiver.
38. A(n) ____ is used in an AFC circuit to varyThe LO frequency.
39. A circuit that blocks The audio until a signal is received is called a(n) ____ circuit.
40. Two Types of signals used to operate The squelch circuit are ____ .
41. In a CTCS System, a low – frequency ___ is used to trigger The____ circuit.
42. A BFO is require to receive ____ and ____ signals.

Jawaban :
1. 2, 4
2. sensitivity
3. Tuned Radio frequency
4. Superheterodyne
5. IF
6. Local Ocillator
7. IF amplifier
8. Automatic gain Control
9. Sinyal or input, local osilator
10. IF amplifier
11.  C
12. Image
13. 3, 5
14. Selectivity
15. 28
16. Gain, selectivity, noise
17. MOSFET or GESFET, galium arsenide
18. IF
19. Tuned Circuit
20. Mutual inductance
21. Under, over, optimum, critical
22. Limiter
23. Cutoff, saturation.
24. Collector current
25. 100
26. Automatic Gain Control
27. IF
28. Rectifier, IF amplifier or detektor
29. Decrease
30. Increase.
31. Constant-current source
32. Control Gate
33. Automatic Volume Control
34. Diode detektor
35. Reduced
36. Local Oscillator
37. Demodulator
38. Voltage – variable capacitor
39. Squelch
40. Audio, noise
41. Tone, squelch
42. SSB, CW


Tuesday, March 28, 2017

Softskill ::: Flowchart

Berikut ini adalah flowchart power bank sederhana : 
Untuk lebih jelas silahkan buka Ms. Word-nya : 

Wednesday, January 25, 2017

V-Class 3 ::: Komunikasi Digital



SOAL!
1.       Jelaskan tentang teknik encoding Polar!
2.       Jelaskan tentang teknik encoding Unipolar!
3.       Jelaskan tentang teknik encoding Bipolar!
4.    Apakah yang anda ketahui tentang satelit?
5.    Sebutkan kelebihan dan kelemahan menggunakan jaringan satelit!

JAWABAN :

1.    Teknik Encoding Polar

Pengkodean Polar: NRZ-L, NRZ-I dan RZ
            NRZ-Level (NRZ-L) dan NRZ-Invert (NRZ-I) merupakan pengkodean digital polar. Disebut demikian karena keduanya menggunakan baik tegangan positif maupun tegangan negatif untuk membangkitkan sinyal digital. Pada NRZ-L bit 1 dan bit 0 direpresentasikan dengan level tegangan dari sinyal, sedangkan pada NRZ-I bit 1 dan bit 0 dibedakan oleh ada atau tidaknya perubahan level tegangan dari sinyal. Konversi data digital menjadi sinyal digital dengan menggunakan NRZ-L dan NRZ-I ditunjukkan dalam Gambar 1.
Gambar 1. Pengkodean digital dengan NRZ-L dan NRZ-I

            Seperti terlihat dalam Gambar 1, NRZ-L dan NRZ-I menggunakan tegangan positif dan negatif sebagai representasi bit. Pada NRZ-I tegangan dari sinyal akan berubah (berinversi) apabila bit berikutnya adalah bit 1. Sedangkan apabila bit berikutnya adalah bit 0, tidak ada perubahan sinyal. Dengan mengamati bentuk sinyal NRZ-L dan NRZ-I kita dapat melihat bahwa kedua modulasi polar ini masih akan mengalami apa yang disebut dengan baseline wandering. Pada NRZ-L baseline wandering akan terjadi apabila terdapat deretan panjang bit 1 atau bit 0, sedangkan pada NRZ-I baseline wandering hanya terjadi pada deretan panjang bit 0 saja. Dalam hal ini NRZ-I sedikit lebih baik daripada NRZ-L.
            Pada NRZ-L dan NRZ-I terlihat bahwa 1 bit elemen data direpresentasikan oleh 1 elemen sinyal waveform, sehingga m=1. Dengan demikian kecepatan sinyal rata-rata dari modulasi digital NRZ-L dan NRZ-I adalah S=R/2 baud.
            Bagaimana dengan bandwidth dari sinyal NRZ-L dan NRZ-I? Karakteristik dari bandwidth dari kedua model modulasi ditunjukkan dalam Gambar 2 dibawah ini.
            Variabel P pada sumbu vertikal dari gambar adalah densitas dari daya (Power density), yaitu jumlah daya pada setiap 1 Hz dari bandwidth. Terlihat bahwa sebagian besar daya berada di sekitar frekuensi 0 Hz. Hal ini berarti terdapat komponen DC yang membawa energi besar sekali. Dari sini dapat disimpulkan bahwa energi yang dibawa oleh NRZ-L dan NRZ-I tidak tersebar merata di kedua tegangan positif dan tegangan negatif. Dengan kata lain, masalah baseline wandering tak terhindarkan oleh kedua jenis modulasi digital ini.
Gambar 2. Karakteristik bandwidth dari NRZ-L dan NRZ-I

                Kekurangan dari NRZ-L dan NRZ-I diperbaiki oleh pengkodean digital return-to-zero (RZ). RZ menggunakan tiga level tegangan yaitu: tegangan positif, tegangan nol dan tegangan negatif seperti terlihat dalam Gambar 3. Dengan demikian persoalan munculnya komponen DC pada NRZ dapat dieliminasi oleh RZ.
Gambar 3. Pengkodean digital RZ dan karakteristik bandwidth RZ

            Pengkodean RZ selalu mengembalikan sinyal ke tegangan nol pada saat sinyal telah mencapai separo dari durasi sinyal. Tetapi karena RZ menggunakan 2 sinyal elemen untuk merepresentasikan sebuah elemen data, hal ini berakibat pada kenaikan bandwidth sebanyak dua kali lipat dibandingkan dengan bandwidth yang digunakan oleh NRZ. Perhatikan bahwa nilai m=1/2 dan kecepatan sinyal rata-rata adalah S=N baud.
            Selain itu, karena RZ membutuhkan tiga level tegangan maka perangkat dengan kompleksitas tinggi dibutuhkan untuk membangkitkan sinyal RZ. Kelemahan-kelemahan sinyal RZ tersebut di atas menjadi alasan sehingga dalam praktek komunikasi data RZ tidak digunakan.



2.    Teknik Encoding Unipolar

Pengkodean Unipolar: Non-Return-to-Zero
            Pengkodean data digital menjadi sinyal digital yang paling sederhana adalah non-return-to-zero (NRZ). NRZ juga disebut sebagai pengkodean digital unipolar karena sinyal yang dibangkitkan hanya menggunakan tegangan positif atau negatif saja. Perhatikan Gambar 4 untuk memahami bagaimana pengkodean digital dengan NRZ yang dibangkitkan dengan tegangan positif.
            Hubungan antara kecepatan sinyal dan kecepatan data dinyatakan dalam persamaan (1).
            Simbol S merepresentasikan kecepatan sinyal (signal rate) rata-rata dalam satuan baud, k adalah konstanta yang dapat berubah-ubah tergantung pada jenis modulasi yang digunakan, m adalah jumlah elemen data yang dapat dibawa oleh setiap elemen sinyal (waveform), dan R adalah kecepatan data (data rate). Untuk pengkodean data digital menjadi sinyal digitial, nilai rata-rata dari k adalah ½.

Gambar 4. Pengkodean digital NRZ

                Pada modulasi NRZ, bit 0 direpresentasikan oleh sinyal dengan tegangan 0 volt, sedangkan bit 1 direpresentasikan oleh sinyal dengan tegangan +V volt. Karena 1 elemen sinyal hanya membawa 1 elemen data, maka m=1. Berdasarkan persamaan (1) kita dapati bahwa kecepatan sinyal rata-rata adalah S=R/2 baud. Pengkodean ini disebut dengan NRZ karena sinyal tidak kembali ke 0 volt di tengah-tengah bit (bandingkan dengan modulasi manchester). Pengkodean NRZ dalam aplikasi nyata tidak digunakan karena jumlah daya yang dibutuhkan untuk membangkitkan 1 buah sinyal pada NRZ lebih besar.


3.    Teknik Encoding Bipolar

Pengkodean Bipolar: AMI dan Pseudoternary
            Pada bagian ini kita akan melihat dua macam pengkodean bipolar yang dikenal dengan nama Alternate Mark Inversion (AMI) dan Pseudoternary. Pengkodean bipolar dibuat untuk mengeliminasi kekurangan-kekurangan yang ada pada NRZ. Pada pengkodean AMI, elemen data dengan bit 1 direpresentasikan oleh sinyal yang beriversi bolak balik dari tegangan positif ke tegangan negatif atau sebaliknya dari tegangan negatif ke tegangan positif. Sedangkan elemen data dengan bit 0 direpresentasikan oleh tegangan 0 volt.
            Pada pengkodean peudoternary, elemen data dengan bit 0 direpresentasikan oleh sinyal yang beriversi bolak balik dari tegangan positif ke tegangan negatif atau sebaliknya dari tegangan negatif ke tegangan positif. Sedangkan elemen data dengan bit 1 direpresentasikan oleh tegangan 0 volt.
            Kedua jenis pengkodean bipolar ini direpresentasikan dalam Gambar 5. Seperti terlihat dalam gambar, pada pengkodean bipolar ini 1 elemen data direpresentasikan oleh 1 elemen sinyal, sehingga didapatkan nilai m=1. Dengan menggunakan persamaan (1) didapatkan bahwa kecepatan sinyal rata-rata adalah S=R/2 baud.
Gambar 5. Pengkodean digital dengan AMI dan Pseudoternary

            Keuntungan menggunakan menggunakan pengkodean bipolar adalah: pertama, tidak memiliki komponen DC, dan kedua, membutuhkan bandwidth dua kali lebih kecil daripada pengkodean dua-fasa yang telah kita bicarakan sebelumnya.
Gambar 6. Karakteristik bandwidth dari pengkodean bipolar

4.    Satelit
Satelit adalah alat elektronik yang mengorbit bumi yang mampu bertahan sendiri. Bisa diartikan sebagai repeater yang berfungsi untuk menerima signal gelombang microwave dari stasiun bumi, ditranslasikan frequensinya, kemudian diperkuat untuk dipancarkan kembali ke arah bumi sesuai dengan coveragenya yang merupakan lokasi stasiun bumi tujuan atau penerima.
            Satelit mempunyai sifat yang universal, dengan banyak kelenturan dalam aplikasinya, efisien dalam biaya, dan mampu menjawab berbagai masalah antara lain;
1. Komunikasi data maupun suara tanpa kabel
2. Menghubungkan satu perusahan dengan perusahaan yang lain
3. Menjawab kebutuhan akan transaksi finansial
4. Merupakan sarana untuk hubungan internet
5. Melalukan informasi video dan jaringan
            Salah satu aplikasi satelit adalah pemanfaatannya sebagai sarana komunikasi. Satelit komunikasi mempunyai banyak keuntungan dibanding dengan sistem komunikasi terestrial.


5.    Kelebihan dan Kelemahan Jaringan Satelit

Paling tidak ada 7 keunggulan satelit komunikasi dibanding dengan komunikasi terestrial. Keunggulan tersebut antara lain;
1)  Universal, artinya satelit komunikasi dapat digunakan dimana saja. Sebuah satelit mampu merangkum sampai 1/3 luas permukaan Bumi. Selain itu biaya yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dari biaya yang digunakan pada sistem komunikasi terestrial. Dengan konstelasi tiga satelit yang ditempatkan pada ketinggian tertentu maka seluruh permukaan Bumi dapat di jangkau
2)   Versatile, serba guna melalukan informasi dalam beragam bentuk, data, video, suara ataupun aplikasi multimedia lainnya mulai dari sarana hiburan, sampai ke jaringan selular dan warta berita. Akibat sifat serbaguna ini penggunaan satelit berdampak pada banyak hal;
a)      Memberikan kemudahan bagi dunia usaha dalam bertransaksi sekaligus melayani 
       banyak pengguna secara simultan.
b)      Memunculkan inovasi dan regulasi baru yang semakin lepas dari pengaturan 
       kekuasaan.
c)      Infrastruktur komunikasi akan tersebar ke seluruh pelosok tanpa dibatasi oleh batas 
       negara dan geografi. Menjadi alternatif pengganti sarana komunikasi terestrial dengan 
       keunggulan teknologi yang lebih akurat dan biaya yang semakin murah.
3)   Reliable, handal dan dapat dipercaya. Satelit merupakan sarana yang bisa membantu kebutuhan dunia usaha untuk melakukan komunikasi secara cepat dan akurat, terutama pada kondisi dimana jaringan internet protocol, IP terrestrial sering bertabrakan dengan bermacam topologi jaringan yang semrawut (congestion) dan parah (latency). Jaringan satelit dapat melayani ratusan lokasi dengan standard kualitas yang sama tanpa terhambat oleh batas-batas geografi.
4)    Seamless, sempurna. Satelit sebagai media penyiaran membuat komunikasi terdistribusi secara simultan dan ideal dari sumbernya ke ribuan lokasi dalam tempo dan waktu yang bersamaan(real time).
5)   Fast, cepat tidak seperti komunikasi terrestrial yang lambat dan mahal. Jaringan satelit dapat menghubungkan kota, daerah dan tempat yang terisolir, melintasi daerah dimana penggunaan kabel tembaga dan serat optik menjadi mahal. Jaringan satelit dapat di set-up dengan cepat dalam melayani kebutuhan pasar.
6)   Expandable, dapat diperluas skala jangkauannya termasuk juga kebutuhan akan lebar pita (bandwith), selain itu kebutuhan pengguna dapat dikoordinasikan dengan penjual dan pengembang dibandingkan dengan jaringan konvensional yang membutuhkan terminal baru yang tentu saja akan memerlukan biaya tambahan.
7)   Flexible, satelit dengan mudah bisa diintegrasikan dengan cara melengkapi, menambah maupun memperluas jaringan komunikasi. Memberikan solusi atas keterbatasan infrastruktur maupun geografi yang sering ditemukan dalam komunikasi terrestrial.

Adapun kekurangan dari jaringan satelit adalah sebagai berikut:

1)      Up Front Cost tinggi: Contoh : untuk Satelit GEO: Spacecraft, Ground Segment & Launch = US $ 
       200 jt, Asuransi: $ 50 jt.
2)      Distance insensitive: Biaya komunikasi untuk jarak pendek maupun jauh relatif sama.
3)      Hanya ekonomis jika jumlah User besar dan kapasitas digunakan secara intensif.
4)      Delay propagasi besar.
5)      Rentan terhadap pengaruh atmosfer
6)      Besarnya throughput akan terbatasi karena delay propagasi satelit geostasioner. Kini berbagai teknik 
       protokol link sudah dikembangkan sehingga dapat mengatasi problem tersebut.
7)      Diantaranya penggunaan Forward Error Correction yang menjamin kecilnya kemungkinan 
       pengiriman ulang.
8)    Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond (latency), sementara leased line hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.
9)      Sangat sensitif cuaca dan Curah Hujan yang tinggi, Semakin tinggi frekuensi sinyal yang dipakai 
       maka akan semakin tinggi redaman karena curah hujan.
10)  Rawan sambaran petir.
11)  Sun Outage, Sun outage adalah kondisi yang terjadi pada saat bumi-satelit-matahari berada dalam satu garis lurus.. Energi thermal yang dipancarkan matahari pada saat sun outage mengakibatkan interferensi sesaat pada semua sinyal satelit, sehingga satelit mengalami kehilangan komunikasi dengan stasiun bumi.